Friday, June 13, 2014

Lesson from my father

Waktu nonton Mata Najwa episode Menatap Indonesia, komentar dari Wakil Ketua KPK, Bambang Widjajanto, membuat saya teringat pada Papah. Komentarnya begini, "Fundamental pemberasan korupsi seharusnya dimulai dari rumah / keluarga"

Let me tell you about my Father.

Ayah saya adalah tipikal orang batak banget: tegas, cenderung galak, kadang nyeremin. Sewaktu kecil dulu, kalau beliau jadi penceramah di shalat tarawih, jamaah akan hening, karena kalau tidak, bisa kena semprot (ibarat SBY yang marahin menterinya kalau ngomong sendiri waktu sidang kabinet). Ibu saya pernah cerita, beberapa kali jadi olokan temannya karena ayah saya, yang semasa kuliah adalah asisten dosen, terkenal killer dan tidak ragu memarahi kelas sebelah kalau terlampau berisik kala beliau sedang mengajar.
Ayah saya Insinyur sipil, tapi boleh diadu pengetahuannya di bidang apa saja karena kesukaanya membaca buku. Waktu SD, Ayah saya beberapa kali menjadi guru tamu di sekolah saya, untuk topik EQ. Semua murid biasanya tobat kalau beliau yang ngajar karena tidak ada yang dapat nilai sempurna di tesnya. Untung beliau hanya mengajar Kelas 6, dan kala itu saya masih kelas 5. Tahun berikutnya beliau tidak lagi mengajar, karena kesibukan dan menghindari tuduhan nepotisme kali ya :p
Ayah saya kelahiran tahun 1950. Di usianya yang sudah lebih dari cukup untuk pensiun, beliau masih bekerja. Kadang saya merasa bersalah, karena harusnya giliran saya yang menafkahi beliau. Di masa karyanya, beberapa kali beliau harus bekerja di luar Jakarta, luar Jawa, bahkan mungkin di luar negeri untuk menafkahi kami. Mungkin itu juga sebabnya Adik saya cenderung lebih dekat dengan beliau, karena sesudah Adik saya lahir, beliau lebih banyak bekerja di Jakarta.
Ayah saya merintis karirnya dari awal: pegawai lapangan, insinyur, sampai kini menduduki puncak jabatan. Saya beberapa kali melihat beliau harus berganti pekerjaan ketika perusahaan tidak lagi sejalan dengan idealisnya. Ada pula masa di mana keluarga kami mengalami cobaan secara ekonomi, namun beliau tetap berpegang pada pendiriannya. Di mata saya sosoknya tidak pernah berubah. Ayah saya dulu dan sekarang, sama kepribadiannya.
Ayah saya boleh dibilang turut andil menopang ekonomi keluarga (adik-adiknya) sejak beliau masih muda. Namun semua dilakukannya dengan senang, dan sekuat tenaga beliau mencoba untuk bisa membantu. Saya selalu bangga kalau mendengar cerita kakek saya dahulu tentang usaha ayah saya menjaga kebahagiann keluarga. Sikap ini sebenarnya ditunjukkan tidak hanya untuk keluarga, tapi juga teman-temannya. Ada suatu masa dulu saat saya membantu beliau di kantornya, saya menjadi saksi mata kala beliau menyumbangkan hampir setengah gajinya kepada bawahannya yang tertimpa musibah, padahal keluarga kami juga sedang membutuhkan. Rasanya saya waktu itu ingin teriak, "Jangan semuanya, Pah".
Ayah saya adalah role model saya. Jika kesuksesan diukur dari pengabdian seseorang kepada masyarakat, beliau adalah contoh nyata. Di lingkungan manapun kami tinggal, beliau selalu jadi "tokoh" karena kemauannya turun tangan. Kehidupan sosialnya juga tidak pernah timpang, dikenal baik dan disegani para tetangga. Selalu menjaga silaturahmi dengan keluarga dan relasi, dan dihormati bawahannya. Sejauh pengamatan saya, dalam menjalankan kewajibannya kepada Sang Pencipta pun tanpa cela. Di kesibukannya, beliau tetap mampu menjaga keseimbangan hablu minannas dan hablu minAllah. Sesuatu yang saya rasa belum mampu saya kuasai hingga kini.
Ayah saya mengajar anak-anaknya lewat sikap, contoh, dan tauladan. Tidak banyak dengan kata. Beliau menunjukkan bagaimana prinsip harus dipegang teguh, agama adalah modal utama untuk hidup, dan menjaga silaturahmi adalah harus. Kebahagiaan di dunia penting, namun bukan segalanya. Keseimbangan harus tetap dijaga.

You must live as a noble man, katanya. Jika tiba saatnya nanti kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu di akhirat, tidak ada yang bisa membantu selain amalanmu

I miss you, Dad! A lot :)




No comments: